Bulu perindu Aura

Jumat, 30 Oktober 2009

Antara perjaka dan perawan - 4

Kedua tangannya malu-malu menutupi selangkangannya. "Huu.. Mas Ari jorok ahh.." sahutnya malu-malu. Aku makin gemas dan bernafsu melihat tingkahnya. "Ayo aahh dik.. Mas sudah kepengen ngerasain nih.. Mas buka ya celana Dik Dina", kataku nakal. Dan dengan cepat aku berjongkok di depannya, kedua tanganku meraih pinggulnya yang seksi dan kudekatkan ke arahku. Pada mulanya Dina agak memberontak dan menolak tanganku namun begitu aku memandang wajahnya dan tersenyum padanya akhirnya ia hanya pasrah dan mandah saat jemari kedua tanganku mulai gerilya mencari ritsluiting celana ketatnya yang berwarna putih itu. Mukaku persis di depan selangkangannya sehingga aku dapat melihat gundukan bukit kemaluannya dari balik celana ketatnya. Aku semakin tak sabar, dan begitu aku menemukan tali ritsluitingnya segera kutarik ke bawah sampai terbuka, kebetulan ia tak memakai sabuk sehingga dengan mudah aku meloloskan dan memplorotkan celananya sampai ke bawah. Sementara pandanganku tak pernah lepas dari selangkangannya, dan kini terpampanglah di depanku CD-nya yang berwarna putih bersih itu tampak sedikit menonjol di tengahnya namun aku tak melihat dari CD-nya yang cukup tipis itu warna kehitaman sama sekali, berarti alat kelamin Dina masih belum ditumbuhi rambut sama sekali. Waahh.. aku memandang ke atas dan Dina menatapku sambil tetap tersenyum. Wajahnya tampak memerah menahan malu. "Mas Ari buka ya.. celana dalamnya", tanyaku pura-pura. Dina hanya menganggukan kepalanya perlahan. Dengan gemetar jemari kedua tanganku kembali merayap ke atas menelusuri dari kedua betisnya yang kecil terus ke atas sampai kedua belah pahanya yang putih mulus tanpa cacat sedikitpun, halus sekali kulit pahanya dan begitu seksi dan padat, aku mengusap perlahan dan mulai meremas. "Oooh.. Mass.."

Dina merintih kecil, kemudian jemari kedua tanganku merayap ke belakang ke belahan bokongnya yang bulat. Aku meremas gemas disitu. Aahh.. begitu halus, kenyal dan padat. Ternyata Dina pandai sekali merawat diri. Ketika jemari tanganku menyentuh tali karet celana dalamnya yang bagian atas, sreet.. secepat kilat kutarik ke bawah CD-nya itu dengan gemas dan sreengg bau alat kelaminnya langsung menyergap hidungku, mm.. harum.. kini terpampanglah sudah daerah 'forbidden' itu. Alamak indahnya bentuk alat kelaminnya itu. Menggembung membentuk seperti sebuah gundukan bukit kecil mulai dari bawah pusarnya sampai ke bawah di antara kedua belah pangkal pahanya yang seksi, sementara di bagian tengah gundukan bukit kemaluannya terbelah membentuk sebuah bibir tebal yang mengarah ke bawah dan masih tertutup rapat menutupi celah liang vaginanya.

Dan di sekitar situ aku tak melihat sehelai rambut kemaluan pun. Begitu bersih dan putih alat kelamin milik Dina itu. Aku hanya bisa melongo menyaksikan keindahan bukit kemaluannya dan tanpa terasa kedua tanganku sampai gemetar menyaksikan pemandangan yang baru pertama kalinya ini. "Oohh.. Dina, indahnya.." Hanya kalimat itu yang sanggup kuucapkan saat itu, selanjutnya aku masih melongo menikmati keindahan sorga dunia milik kekasihku Dina. Bau yang keluar dari alat kelamin miliknya membuat hidungku jadi kembang kempis menikmati aroma aneh namun terasa menyenangkan buatku. Sesaat aku tiba-tiba mendengar suara sreek.. sreek.. di atasku ketika aku mendongak ternyata kekasihku itu sedang membuka baju kaosnya, belum habis rasa kagetku setelah melemparkan kaosnya sekenanya kedua tangannya lalu menekuk ke belakang punggungnya hendak membuka BH-nya dan tess.. BH itupun terlepas jatuh di mukaku. Puk, langsung aku jatuh terduduk dan hanya bisa melongo menyaksikan pemandangan indah yang lain. Selanjutnya Dina melepas juga celana dan CD-nya yang masih tersangkut di mata kakinya, lalu sambil tetap berdiri di depanku mulutnya tersenyum manis kepadaku, walaupun wajahnya sedikit memerah karena malu ia berusaha untuk tetap tersenyum. Alamak.. buah dadanya itu ternyata memang berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua kali bola tenis, warnanya putih bersih hanya puting-puting kecilnya saja yang tampak berwarna merah muda kecoklatan. aah, cantiknya kekasih kecilku ini apalagi kalau sedang telanjang bulat seperti ini, aku tak menyangka tubuhnya yang sedang mekar ini sudah memiliki keindahan yang sangat sempurna. " Dina kamu cantik sekali sayang", bisikku lirih.

Batang penisku semakin cenat-cenut tegang tak karuan. Lalu Dina mengulurkan kedua tangannya kepadaku mengajakku berdiri lagi. Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa saja. Bertelanjang bulat satu sama lain seperti kaum nudis saja. "Mass.. Dina sudah siap, Dina sayang sama Mas, Dina akan serahkan semuanya seperti yang Mas inginkan", bisiknya mesra. Aku merangkul tubuhnya yang telanjang merasa terharu. Badanku seperti kesetrum saat kulitku menyentuh kulit halusnya yang hangat dan mulus apalagi ketika kedua payudaranya yang bulat menekan lembut dadaku yang bidang. aah.. aku merintih nikmat. Jemari tanganku tergetar saat mengusap punggungnya yang telanjang, begitu halus dan mulus. Aku tak sanggup menahan gejolak nafsuku. Setan-setan burik di belakangku seakan menggelitik batang penisku agar aku segera menyetubuhinya. "Aahh.. Dina kita lakukan di kamar yuk, Mas sudah kepingin begituan sayang", bisikku tanpa malu-malu lagi. Dina tersenyum dalam pelukanku. "Terserah Mas saja, mau melakukannya dimana", sahutnya mesra. Tooiinng.. batang penisku langsung manggut-manggut seolah sangat setuju. Dengan penuh nafsu aku segera meraih tubuhnya dan kugendong ke dalam kamar. Saat itu aku sempat melirik jam didinding ruangan sudah setengah tiga sore. Waah harus cepat nih, bisa kemalaman nanti. Kurebahkan tubuh Dina yang telanjang bulat itu di atas kasur busa di dalam kamar tengah, tempat tidur itu tak terlalu besar, untuk 2 orang pun harus berdempetan. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena memang aku sengaja menutup semua gorden agar tak kentara dari luar, walaupun gorden yang berada dalam kamar ini sama sekali tidak menghadap ke jalan umum namun menghadap ke kebun di belakang, jadi sebenarnya sangat aman. Aku segera membuka gorden agar sinar matahari sore dapat masuk, dan benar saja begitu kusibakkan sinar matahari dari arah barat langsung menerangi seluruh isi kamar. Kulihat tubuh Dina yang telanjang bulat kelihatan mengkilap karena pantulan sinar matahari namun tak sampai menyilaukan mata.

Jantungku berdegup kencang saat kunaiki ranjang dimana tubuh Dina yang telanjang berada, ia memandangku tetap dengan senyumnya yang manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, aku tak sabar ingin segera memasuki tubuhnya. "Buka pahamu sayang, hh.. Mas ingin menyetubuhimu sekarang", bisikku bernafsu. Aku merasakan kehangatan saat kulitku bersentuhan dengan kulitnya yang halus mulus. Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting-putingnya yang kemerahan sangat menawan hatiku, namun kutahan sementara keinginanku untuk menjamah buah terlarangnya itu. "Mass.." ia hanya melenguh pasrah saat aku setengah menindih tubuhnya dan batang penisku yang tegang itu mulai menusuk celah bukit kemaluannya, mencari liang vaginanya. Kurasakan bukit kemaluannya terasa lunak dan hangat. "Aahh.." tanganku tergetar saat kubimbing alat vitalku mengelus bukit kemaluannya yang empuk lalu menelusup di antara kedua bibir kemaluannya.
"Sayang.. Mas masukkan yaah.. kalau sakit bilang sayang.. kamu kan masih perawan."
"Pelan-pelan Mas ..", bisiknya pasrah. Lalu dengan jemari tangan kananku kuarahkan kepala penisku yang sudah tak sabar ingin segera masuk dan merobek selaput daranya itu. Dina memeluk pinggangku mesra, sementara kulihat ia memejamkan kedua matanya seolah menungguku yang akan segera memasuki tubuhnya. Aku mencari liang vaginanya di antara belahan bukit kemaluannya yang lunak, aku tak dapat melihat celah vaginanya karena posisi tubuhku yang memang tak memungkinkan untuk itu namun aku berusaha untuk mencari sendiri. Kucoba untuk menelusup celah bibir kemaluannya bagian atas namun setelah kutekan ternyata jalan buntu. "Agak ke bawah Mas, aahh kurang ke bawah lagi Mas.. mm.. yah tekan di situ Mas.. aaww pelan-pelan Mas sakiit", Dina memekik kecil dan menggeliat kesakitan, namun segera kupegang pinggulnya agar jangan bergerak. Akhirnya aku berhasil menemukan celah vaginanya itu setelah kekasihku itu menuntunku, akupun mulai menekan ke bawah, "Hhggkkghh.." kepala penisku kupaksa untuk menelusup ke dalam liang vaginanya yang sempit, terasa hangat dan sedikit basah. Kukecup bibir Dina sekilas lalu aku berkonsentrasi kembali untuk segera dapat membenamkan batang penisku sepanjang 14 centi itu seluruhnya ke dalam liang vaginanya. Dina mulai merintih dan memekik-mekik kecil ketika kepala penisku yang besar mulai berhasil menerobos liang kemaluannya yang sangat-sangat sempit sekali.

"Tahan sayang.. Mas masukkan lagi, hhgghh.. ahh sempit sekali sayang aahh", erangku mulai merasakan kenikmatan dan "ssrrtt" kurasakan kepala penisku berhasil masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang vaginanya. "aawww.. mass sakiit.." teriak Dina memelas, tubuhnya menggeliat kesakitan. Aku berusaha menentramkannya sambil kukecup mesra bibir mungil yang basah merekah dan kulumat dengan perlahan. "mm.. cuupp.. cuupp." Lalu, "Hhgghh.. tahan sayang, baru kepalanya yang masuk sayang, Mas tekan lagi yaah", bisikku di antara rasa pedih dan nikmat karena jepitan liang vaginanya itu begitu ketat seolah-olah kepala penisku diremas oleh sebuah daging yang sangat kuat cengkeramannya walaupun terasa hangat dan lunak. Waah, ini harus diminyaki dulu nih pikirku, kalau aku langsung memperawaninya bisa-bisa batang penisku ikut-ikutan lecet. Akhirnya sambil menahan keinginan seks-ku yang sudah menggelora kucabut kembali alat vitalku yang baru masuk kepalanya saja itu dengan perlahan. mm.. nikmatnya saat penisku menggesek celah vaginanya.
"Ah.. sayang, Mas masukin nanti saja deh.. hh.. liang vaginamu masih sangat sempit dan kering sayang."
"Kemaluanku sakit Mas", erang Dina lirih.
"Yahh.. Mas tahu sayang kamu kan masih perawan, kita bercumbu dulu sayang, Mas kepingin melihat Dik Dina orgasme", bisikku bernafsu. Segera kurebahkan badanku di atas tubuhnya dan memeluknya dengan kasih sayang, "aahh.." aku menggelinjang nikmat merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya, apalagi saat dadaku menekan kedua buah payudaranya yang montok rasanya begitu kenyal dan hangat, puting-puting susunya terasa sedikit keras dan lancip, mm.. mm. Kemudian kurasakan pula perut kami bersentuhan lembut dan yang paling merangsang adalah saat batang penisku yang kucabut tadi kini menekan nikmat bukit kemaluannya yang empuk. Ingin rasanya aku mencoba untuk memasuki liang vaginanya lagi dan mengeluarkan air maniku sebanyak-banyaknya di dalam situ tapi aahh, aku tak ingin hanya diriku saja yang merasakan kenikmatan, aku ingin mencumbu kekasihku ini dulu, mengulum bibirnya, meremas dan mengenyot-enyot kedua buah payudaranya dan terakhir akan kucumbu seluruh tubuhnya dari atas sampai ke kaki, kukecup dan kucumbu alat kelaminnya, kujilati bibir vagina dan clitorisnya sampai Dina kekasih kecilku ini merasakan kenikmatan seks sesungguhnya dan orgasme sepuasnya.

"Dina.. hh.. bagaimana perasaanmu sayang", bisikku mesra. Ia memandangku dari jarak yang kurang dari 10 centi dan tertawa renyah.
"mm.. Dina bahagia sekali bersama Mas seperti ini, rasanya nikmat ya Mas berpelukan sambil telanjang kaya gini", ujarnya polos.
"Iyaa sayang, anggaplah Mas suamimu saat ini sayang", bisikku nakal.
"Iih.. Mas Ari, mm.. mm.. Mas cumbui isterimu dong, beri istrimu kenik.. mmBHh", belum sempat ia selesai ngomong, aku sudah melumat bibirnya yang nakal itu, Dina membalas ciumanku dan melumat bibirku dengan mesra. Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Dina langsung mengulumnya hangat, begitu sebaliknya. Semua terasa indah. Kurayapkan jemari tangan kiriku ke bawah menelusuri sambil mengusap tubuhnya mulai pundak terus ke bawah sampai ke pinggulnya yang hangat padat dan kuremas gemas, ketika tanganku bergerak kebelakang ke bulatan bokongnya yang bulat merangsang bersamaan dengan itu aku mulai menggoyangkan seluruh badanku menggesek tubuh Dina yang bugil terutama pada bagian selangkangan dimana batang penisku yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan bukit kecil milik Dina yang empuk, kugerakkan pinggulku secara memutar sambil kugesek-gesekkan batang penisku di permukaan bibir kemaluannya yang empuk sambil sesekali kutekan-tekan nikmat.

Dina ikut-ikutan menggelinjang kegelian namun ia sama sekali tak menolak walaupun beberapa kali kepala penisku yang tegang salah sasaran memasuki belahan bibir kemaluan atau labia mayoranya seolah akan menembus liang vaginanya lagi. Ia hanya merintih kesakitan dan memekik kecil kalau aku salah menekan.
"Aawww.. Mas saakiit", erangnya membuatku makin terangsang saja.
"Aahh.. Dina.. kemaluanmu empuk sekali sayang, sshh", aku melenguh keenakan. Setan-setan burik di belakangku semakin gila berjoget dangdut, seolah-olah bernyanyi, "Hangat terasa.. terlenaa". Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu bibir, aku menggeser tubuhku kebawah sampai mukaku tepat berada di atas kedua bulatan payudara yang bundar bak buah apel, kini ganti perutku yang menekan bukit kemaluannya yang empuk itu, wooww enakk. Jemari kedua tanganku secara bersamaan mulai menggerayangi gunung "Fujiyama" miliknya itu, seolah hendak mencakar kedua payudaranya kelima jemari masing-masing tanganku kurenggangkan satu sama lain dan membentuk seperti cakar burung dan aku mulai menggesekkan ujung-ujung jemariku mulai dari bawah payudaranya di atas perut terus menuju gumpalan kedua buah dadanya yang kenyal dan montok. Dina merintih dan menggelinjang antara geli dan nikmat. "Mass.. mm.. iih geli Mas", erangnya lirih. Beberapa saat kupermainkan kedua puting-puting susunya yang kemerahan dengan ujung jemariku. Dina menggelinjang lagi, kupuntir sedikit putingnya dengan lembut. "mm Mas.." Dina semakin mendesah tak karuan. Aku tak tahan, secara bersamaan akhirnya kuremas-remas gemas kedua buah dadanya dengan sepenuh nafsu. "Aawww.. Mas.. nngg", Dina mengerang dan kedua tangannya memegangi kain sprei dengan kuat. Aku semakin menggila tak puas kuremas lalu mulutku mulai menjilati kedua buah dadanya secara bergantian.

Lidahku kujulur-julurkan menjilati seluruh permukaan susunya itu sampai basah, mulai dari payudara yang kiri lalu berpindah ke payudaranya yang kanan, kugigit-gigit puting-puting susunya secara bergantian sambil kuremas-remas dengan gemas sampai Dina berteriak-teriak kesakitan. "Maass.. sshh.. shh.. oohh.. oouwww.. mass", erangnya. Lima menit kemudian lidahku bukan saja menjilati kini mulutku mulai beraksi menghisap kedua puting-puting susunya sekuat-kuatnya. Aku tak peduli Dina menjerit dan menggeliat kesana-kemari, sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meremasi rambut kepalaku yang bergerak liar, sementara kedua tanganku tetap mencengkeram dan meremasi kedua buah dadanya bergantian sambil kuhisap-hisap dengan penuh rasa nikmat. Bibir dan lidahku dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua payudaranya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut puting susunya kupilin-pilin dengan lidahku sambil terus menghisap sampai pipiku terasa kempot, aku menghayal meminum air susunya. Dina hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat ketika gigiku menggigiti putingnya dengan gemas, hingga tak heran kalau di beberapa tempat di kedua bulatan susu-susunya itu nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku. mm.. mm.. ini benar-benar nikmat, susu asli cap Nona pikirku dalam hati. Cukup lama sekali aku menetek susunya, mungkin sekitar 15 menit, sampai setelah cukup puas bibir dan lidahku kini merayap menurun ke bawah. Kutinggalkan kedua belah payudaranya yang basah dan penuh dengan lukisan bekas gigitanku dan juga cupangan berwarna merah bekas hisapanku, sangat kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusarnya, Dina mulai mengerang-erang kecil keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan keringatnya yang kas menambah nafsu seks-ku semakin memuncak, kukecup dan kubasahi seluruh perutnya yang kecil sampai basah. Ketika aku bergeser ke bawah lagi dengan cepat lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada di atas gundukan bukit kemaluannya yang indah mempesona. "Buka pahamu Din.." teriakku tak sabar, posisi pahanya yang kurang membuka itu membuatku kurang leluasa untuk mencumbu alat kelaminnya itu. "Oooh.. mass", Dina hanya merintih lirih, kelihatannya dia sudah lemas kupermainkan sejak tadi, tapi aku tahu dia belum orgasme walaupun sudah sangat terangsang semenjak kuhisap kedua buah dadanya.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar