Bulu perindu Aura

Kamis, 14 Oktober 2010

Sukses sekali - 1

Aku masih jengkel dengan suasana hari ini. Pagi-pagi kok sudah adu mulut, kalau sudah begitu maka satu hariku penuh pasti penuh kemuraman dan kedongkolan. Emosiku sudah menyedot energi sampai-sampai kerjapun tidak konsentrasi dan asal masuk kantor saja. Huahm, emang cewek susah sekali dimengerti. Ada saja yang bisa membuatnya ngomel panjang pendek. Misal karena telat jemput tadi pagi, padahal toh cuma persoalan 5 menit (ditinjau dari setting arlojiku maksudnya, he... he... he...). Kapan-kapan gara-gara lupa mampir beliin minyak wangi titipannya, lain waktu gara-gara ketiduran di gedung bioskop, dan sebagainya.

Berhubung kejengkelanku belum sirna sama sekali maka aku cabut dari kantor sebelum jam 4, toh berlama-lama di kantor juga percuma. Mondar-mandir ke toilet cuci muka, pura-pura buang hajat padahal ngerokok, pura-pura serius menatap monitor padahal tidak ada satu file-pun yang kubuka kecuali screen saver yang meliuk-liuk warna-warni (untung meja kerja kami diberi pembatas meskipun tidak penuh, sehingga masing-masing karyawan masih memiliki privacy yang cukup memadai).

Jadi sejak persengketaan tadi pagi sampai sore ini komunikasi kami sementara terputus, di mana masing-masing pihak sedang sibuk menenangkan (atau melepaskan) ledakan emosi dengan cara masing-masing. Aku suka keluyuran putar-putar tanpa arah yang penting adalah bergerak. Kalau cewekku paling pol juga mencari korban lagi di antara sahabat-sahabatnya untuk dicurhati sampai diusir saking kuping mereka sudah panas. Kalau yang sudah pernah pengalaman dicurhati bakalan jauh-jauh sudah pasang tampang pedes, staf-staf barulah yang masih hijau yang bakalan jadi sasaran empuknya. Tapi herannya kok ya masih pada mau berdekat-dekatan sama cewekku ini, masih mau bergerombol-gerombol makan siang atau jalan-jalan ke mall dekat kantor mereka. Demikian kali ya dunia kaum hawa. Mereka masih lebih membutuhkan satu sama lain meskipun suka saling omel-mengomeli.

Darahku semakin mendidih saja, lagi emosi begini kena macet lagi, sumpah serapahku mengalun tak henti-hentinya dan terus menderu-deru laiknya gas mobil yang kutekan-tekan. Ketololanku adalah aku lupa jam segitu di Jakarta adalah saat-saat lalu lintas lagi padat-padatnya, lha kok malah keluar jalan-jalan cari angin, rencananya, hasilnya yang ada malahan bukan jalan-jalan akan tetapi beringsut-ingsut. Kusumpahi semua orang di jalan kenapa mereka tumpah ruah tanpa mempedulikan kebutuhanku. Mbok ya sana cari jalan lain jauh-jauh dari aku atau bikin sendiri-sendiri saja, lebih bagus lagi kalau pada minggat dari Jakarta.

[Sosok-sosok]

Sampai akhirnya kuputuskan daripada jalan tak tentu arah maka aku belok ke Grand Wijaya wilayah Blok A, di sana aku bisa memilih mau nonton atau pijat, atau nongkrong ngopi saja. Sejenak aku meminggirkan mobil untuk menimbang-nimbang. Ah, yang paling tepat adalah memarkirkan mobil di dalam kompleks. Perkara nanti akhirnya ingin sekadar nongkrong saja toh tinggal jalan kaki keluar menuju sisi luar dari kompleks, di sana ada beberapa cafe lumayan.

Kuarahkan mobilku menuju lokasi parkir dekat ATM berwarna biru sekalian mau narik cash. Syukurlah ternyata masih ada satu yang kosong. Dari dalam mobil kulihat ada beberapa orang yang lagi antre. Dan oh... Ada dua sosok cewek di antara antrean itu. Mereka bercanda. Yang satu berambut panjang, mata besar, hidung mancung, tinggi langsing, berkulit kuning langsat dengan kaos ketat warna pink. Satunya sedikit lebih pendek, hidung lokal termasuk matanya, kulit krem (lebih terang dari hitam manis), berkemeja coklat, rambut potongan pendek, sedikit lebih montok, teteknya maksud saya. Hmm hehe. Keduanya memakai celana jeans di mana kaosnya sama-sama menggantung tidak menjangkau sampai celana. Standar pakaian cewek masa kini, menyisakan kulit-kulit pinggang untuk disiarkan. Bagus juga sih begitu, hihihi. Malah ada yang sampai CD-nya nyaris kelihatan semua ketika nungging dibonceng motor pacarnya atau dibonceng tukang ojek atau dibonceng pacarnya yang tukang ojek. Yang pasti adalah pantat yang berambut pendek ini lebih besar dari yang berambut panjang.

Sebaiknya kuberdiam diri dulu di dalam mobil saja sambil secara leluasa memandangi cewek-cewek itu secara lebih leluasa. Mereka tidak bakalan tahu kutatapi begini, film kaca mobilku 70%, sangat gelap. Sudah keluar satu makhluk dari ATM. Seekor cowok, sekilas melihat para cewek tadi. Terus ngeloyor entah ke mana. Masih ada 5 lagi, ada 3 ekor Om-Om selain ke dua bidadari itu (hihi, sori ya Om-Om). Kalau ternyata salah satu cewek itu hanya mengantar maka tinggal 4 antrean lagi. Baiklah, nyantai saja, aku toh punya waktu banyak. Kuputar CD lagu. 'Girl from Ipanema' yang Bossas itu yang pertama mengalun.

Seleraku memang rada-rada ndangdut, makanya koleksiku lebih mengarah pada lagu-lagu latin ketimbang rock atau pop. Ketukan-ketukan perkusi lebih mampu memikat hatiku ketimbang suara-suara tiup atau ringkikan-ringkikan gitar elektrik. Tinggal satu lagi sebelum para cewek itu. Aku keluar mobil persis satu lagu tadi habis. Kuberdiri di belakang si Krem Manis.

Kutatap tengkuknya (rambutnya pendek, jadi tengkuknya ternampak, lalu aku tengok saja), ada bulu-bulu halus. Mereka menoleh ke arahku, wajar sekadar ingin tahu kedatangan orang. Sengaja kutatap langsung ke arah mata salah satu dari mereka, yang berambut panjang. Yang satu ini berdirinya tegak lurus (90') dengan arahku jadi dia lebih mudah membelokkan kepalanya ketimbang si Krem Manis yang membelakangiku. Kami agak lama saling bersitatap, kira-kira 7 detik (mungkin kalau kita menatap orang secara 'menohok' akan menimbulkan hawa hipnotis kali ya, sehingga lawan tatapan kita akan tercekat seolah-olah terperangkap seperti kucing menatap tikus).

Mereka melanjutkan canda tawa, cekikikan sana cekakakan sini, menimbulkan kesan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Anak gaul kali. Yang begini lebih tepat kalau langsung disapa bila kita memang ingin kenalan. Kalau memang mau maka tidak akan memerlukan waktu lama untuk segera berakrab-akraban, kalau memang tidak ingin juga akan jelas. Kalau cewek-cewek manis rumahan serba tidak jelas, mau dan enggak sulit dibedakan meskipun pada akhirnya mau. Tergantung tingkat kenekatan cowoknya.

Tapi itu persepsiku semua yang kusadur dari cerita teman-temanku yang berpengalaman yang sebentar lagi akan kupraktekkan (jadi jangan tersinggung ya pemirsa, cool aja). Anehnya kok sukses sekali pengalaman praktek kerja lapangan yang baru pertama kali kujalani ini. Oh, kenapa nggak dari jaman dulu kala.

[Salam-salaman]

Kucoba cari momen bersitatap kembali. Siapa saja dari kedua orang ini. Caranya, pandang mereka bergantian terus-menerus. Bila mereka akhirnya menoleh karena merasa diperhatikan, langsung lempar senyum dan ucapkan salam.

"Hai...."

Memang begitulah kebetulan akhir dari drama caper (cari perhatian) ini, lalu dilanjutkan dengan dialog-dialog standar sebagai berikut.

"Kenalin, Prakosa..." tanganku sudah melaju ke depan.
"Winnie," jawab si Langsat.

Untung disambut. Kalau enggak ya biasa, kadang untung kadang buntung. Kayak dagang, mengandung resiko.

"The Pooh," batinku.
"Ruly," jawab si Krem.
"Mau nonton?" aku bergegas.
"Yoi," jawab si Tinggi (atau sama juga dengan yang Kuning alias Winnie, baca lagi deskripsi di atas kalau lupa yahh).
"Apa nih?".
"Collateral".
"Wah kok sama ya," jawabanku akan selalu fleksibel dalam situasi darurat-darurat macem begini. Mengikuti arah angin. Jurus-jurus cowok sepanjang masa.

"He he he, kuno deh," Ruly nyengenges bijak atas siasat-siasat kuno begini.
"Tapikan manjur sepanjang masa. Ya kan?".
"Yoi, so bertiga nih?" potong si Mancung (hayo, ingat yang mana..).
"Jelas, ada kasus?" maksudku 'ada kasus' adalah 'ada masalah' atau 'keberatan'. Eh mereka cepat mengerti dengan kata yang baru kugunakan itu.

"No problem-lah. Tapi you yang antre, nih duit kami berdua."
"Ok deh, nggak mau dibayarin nih?" basa-basi kunoku muncul ulang.
"Udah deh, rileks aja."
"Sip deh."

Lalu kami meninggalkan lokasi ATM. Sambil ngobrol tentunya. Benarkan kataku, cewek-cewek ini emang anak gaul jadi enak digauli (maksudku diajak bergaul, jangan nafsu dulu dong, entar ada epsiodenya sendiri).

[Santap-santapan]

"Wah main jam 8 nih, gimana nona-nona?". Ternyata jam main Collateral jam 8 ketika kulihat jadwalnya, masih ada 1 jam lagi.
"Ya udah makan dulu aja yok," Ruly menawarkan solusi.
"Tapi mending beli tiket dulu kali," ujarku.
"Sure, antrelah dikau," Winnie menginstruksikan.

Langsung aku menuju loket sementara mereka menuju sofa-sofa tunggu. Antrean tidak terlau panjang, soalnya bukan hari libur dan bukan harinya nomat. Ini hari Kamis pemirsa, tepatnya tanggal 16 September 2004 kalau mau tahu. Sori ya lupa kasih preambul. Sori dong. Giliranku maju.

"3 orang Mbak, minta di baris C tengah deket gang ada nggak?" pesanku sambil menyerahkan uang.
"Baik."

Kuamati si penjaga loket. Wow, di bibirnya ada bulu kumis tipis. Seksi sekali cewek ini. Dia tahu kalau kuamati. Senyum tipis ketika melirik. Disodorkan tiket. Kulirik tangannya, oh mijn god, ada bulu-bulu kucingnya juga. Kuambil tiket sambil sengaja kusentuh tangannya. Melirik dan tersenyum lagi doi. Secara cepat kilat kuambil kartu namaku dan kuserahkan bersamaan ketika dia menyerahkan uang kembalian. Kukedipkan mataku, dia mencebirkan bibirnya. Adegan-adegan ini amat merangsangku.

"Yok makan," kejemput kedua bidadari tadi di sofa penunggu.

Mereka duduk membelakangiku. Kami keluar gedung kembali mencari tempat makan.

"Apa dong?" sejenak kami berembug.
"Ayam goreng aja, tuh ada fast food," sesuai dengan potongan rambutnya yang pendek, selera makannya pun praktis juga nih si Kemeja Coklat (Ruly, huh lupa melulu nih pemirsa).
"Nggak nglawan, ayo," nggak nglawan tuh setuju aja maksudnya. Kami mencari tempat duduk di pojok setelah memesan makanan. Giliran makan aku didiamkan saja untuk membayar. Ternyata mau juga dibayarin. Naluri kewanitaanya keluar deh, naluri dibayarin. Hihihi.

Lalu kami sambil bersantap melanjutkan perkenalan kami.

"Lu-lu pada kerja apa masih sekolah?".
"Kul, di LA".

Untung aku tahu LA itu Lenteng Agung, pada suatu ketika sekian tahun yang lalu baca koran mengenai sebuah perguruan tinggi ilmu sosial swasta yang cukup dikenal itu.

"Dua-duanya?".
"Yup, kami sekelas."
"Jurnalistik?".
"Yup," keriuk-keriuk ayam renyahnya tanpa sungkan-sungkan disiarkan suaranya oleh Ruly.
"Ker di mana lu?".
"Di Kuningan, kantorku jualan alat-alat telekomunikasi."
"Wah untung lu nggak kena bom, kalau kena nggak bakalan lu nemuin cewek-cewek cakep kayak kita gini, hehe," cengengesen melulu nih si Pantat Montok.
"Hush, kita masih perlu berduka buat mereka jangan bercanda yang begituan," aku pura-pura serius.
"Upps, sori Bang."
"Lu berdua rajin nonton ke sini emang?" kualihkan ke suasana yang kembali rileks.
"Nggak sih, kadang. Tadi mau ke KC tapi mendingan ke sini aja, maklum anak sekolahan duit masih minta bokap," jawab si Langsing.
"Ooh..." aku hanya ber oh-oh. Soalnya sekelebat bayangan penjaga loket yang bibirnya berkumis halus muncul.
"Lu tingkat berapa? Dan entar mau kerja di mana?".
"Lagi skripsi, kerja apa aja. Susah deh gini hari cari ker, mau nampung?" kata Winnie.
"Mau numpang aja, hehe," candaku memancing.

Tapi sekelebat bayangan si bulu kucing melintas lagi. Aku terhorni lagi.

"Jidat lu, enak aja numpangin orang, baru juga kasih makan dah nglunjak," Ruly cekakakan menjawab.
"Loh, ini bukan urusan makan, tapi urusan setelah makan," aku nyosor terus.

Inilah gunanya cari tempat duduk mojok biar kalau ngomong kebablasan begini seminimal mungkin dipergoki orang.

"Lu nggak pingin jadi wartawan aja?" kucoba manuver biar nggak ketahuan terlalu bernafsu.
"Boleh juga, tapi nggak tahulah entar aja. Kayaknya ramai juga persaingan jadi wartawan."
"Eeh, belon-belon kok pesimis. Lu pada mesti punya tujuan dari sekarang entar mau apa mumpung belon lulus," sok tua deh aku menasihati mereka.
"Maunya sih jadi pembawa berita, bacain doang tapi keren tuh," cekikikan lagi Ruly. Kuevaluasi ternyata memang Ruly yang lebih bawel ketimbang Winnie.

[Sentuh-sentuhan]

"Eh sudah kurang 10 menit lagi, yuk," sela Winnie.
"Lu mau di tengah apa di pinggir," kata Winnie lagi.
"Tengah dong, biar adil," hidungku kembang kempis serasa mendapat suplai oksigen berlebih.
"Bener ya yang adil, awas kalau Ruly aja yang dijamah, huahaha," meledak tawa Winnie atas kejorokannya sendiri.
"Dijamin, dosa kalau enggak," wah kubawa-bawa jargon agama segala.
"Muka lu bawa-bawa dosa segala," cekikikan Ruly.

Mereka sudah mulai mau merapat-rapat jalannya denganku. Kadang buah-buah mereka tersenggol-senggol lenganku. Permulaan yang bagus. Tapi masalahnya aku saat ini lagi horni ke orang lain. Jadi kubayangkan toket si Penjaga Loket yang gede juga ukurannya yang menyenggol-nyenggol lenganku. Suara-suara panggilan ke studio 3 sudah berkumandang. Itu studio di mana Collateral diputar. Kami langsung masuk dan tanpa sungkan aku mengambil duduk di tengah.

"Geer lu," Winnie mendengus. Dengan mantap aku duduk di tengah mereka sambil nyengir. Dering SMS berbunyi, kubaca. Upps, dari Penjaga Loket.
"Mau ketemuan nggak?" tulisnya.
Kujawab dengan semangat, "Malam ini jam 11 langsung aja ke hotel M di M, ok honey?". Uji coba langsung ke pokok persoalan.
"Ok deh". Eh disambut. Ruaarr biasa.

Mereka di kanan kiriku cuek dengan aktivitasku. Lengan-lengan kami sudah saling bersentuhan. Kanan kiri. Kayak raja minyak kupikir-pikir, dikelilingi wanita selalu. SMS berdering lagi.

"Lu di mana?"

Aduh pacarku sudah mulai mau berbaikan kembali. Kubiarkan saja besok tinggal bilang ketiduran dari sore atau HP dimatiin lagi dicharge. Kumatikan HP ketika film sudah mulai. Kutengok kanan kiri.


Bersambung . . .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar